Headlines News :

Cari Hotel di Solo

Wedangan

caragampang.com
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam. Tampilkan semua postingan

Kekayaan Taman Balekambang Masa Kini


Kodratnya taman kota adalah sebagai paru-paru kota yang memberikan banyak udara segar dan bersih serta menjadi resapan air dalam kota. Satu-satunya taman kota di Solo yang paling besar dan kini telah menjadi ruang publik adalah Taman Balekambang. Setelah direvitalisasinya Taman Balekambang, taman kota ini menambah fungsinya sebagai ruang publik, seperti menjadi taman budaya, taman boutani, taman rekreasi dan edukasi, dan juga taman reptil.
Selama lebih kurang empat tahun menjadi ruang publik, Taman Balekambang mengalami perkembangan yang sangat signifikan setiap tahunnya. Mulanya memang belum banyak yang tahu mengenai adanya taman di belakang kawasan GOR Manahan ini. Namun dengan banyaknya event yang digelar oleh pengelola Taman Balekambang, tempat ini memiliki banyak daya tarik untuk menyerap pengunjung berbondong-bondong untuk berdatangan. Dengan event pulalah pengenalan Balekambang terhadap masyarakat luas lebih efektif. Selain banyak yang menyaksikan sendiri, diharapkan banyak media yang berdatangan untuk meliput event tersebut.
Beberapa fungsi Taman Balekambang diantaranya :
  1. Taman Budaya : fungsinya adalah untuk menghidupkan seni Jawa dan sendra tari. Taman Balekambang memberikan ruang atau wadah bagi masyarakat Solo untuk mengapresiasikan seninya di sini. Selain itu juga untuk mengangkat budaya Solo sendiri.
  2. Taman Boutani : fungsinya adalah untuk mengoleksi aneka tanaman yang menjadi tanaman besar dan langka untuk bisa dipelajari melalui observasi.
  3. Taman Balekambang sebagai Taman Rekreasi.
    Taman Rekreasi : fungsinya adalah untuk berekreasi dan memberikan hiburan para pengunjung, keluarga. Selain itu ada juga area outbound untuk anak-anak dan dewasa sebagai wahana edukasi.
  4. Taman Reptile : fungsinya adalah untuk berkumpulnya para komunitas reptil di Solo, juga sebagai wadah untuk mengoleksi reptil dan hewan pemanis lainnya. Taman Reptil bisa juga dijadikan edukasi melalui Study Banding.
Sendra Tari Ramayana, salah satu event Balekambang.
Dengan terlaksananya fungsi-fungsi dari Taman Balekambang, pengelola juga masih berusaha untuk menjadikan tempat ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi warga Solo sekitarnya dan juga para pelancong. Untuk itu, pihak pengelola telah membuat kalender event mingguan, bulanan dan juga tahunan sebagai alternatif menarik lebih banyak pengunjung. Event mingguannya antara lain Ketoprak, Dagelan Citro Mitro di dalam gedung maupun open stage, dan Tembang Kenangan. Yang menjadi event tetap bulanannya adalah pertunjukkan Sendra Tari Ramayana yang digelar setiap malam tanggal 15 (kalender jawa ) atau malam bulan purnama. Event tahunan Taman Balekambang di antaranya adalah sebagai berikut :
  1. Festival Ketoprak : event ini biasa digelar setiap bulan Februari. Festival ini diikuti oleh beberapa group ketoprak yang ada di Solo.
  2. Pesona Balekambang : event ini biasa digelar setiap bulan Maret. Acaranya meliputi pameran flora dan fauna, pasar kreatif, festival anak, hiburan, dan pentas seni budaya.
  3. Semarang Balekambang : event ini biasa digelar menjelang bulan Ramadan. Acaranya meliputi pasar murah, pameran flora fauna, dan aneka lomba-lomba.
  4. Event Bakdan ing Balekambang.
    Bakdan ing Balekambang : event ini biasanya digelar selama 1 minggu setelah lebaran. Banyak acara seni, budaya, pasar murah, dan juga kegiatan lain di acara ini.
  5. Pasar Seni Balekambang : event ini biasa digelar tanggal 26 Oktober, bertepatan dengan hari jadi Taman Balekambang.
Beberapa event Taman Balekambang telah tercatat dalam Kalender Event Kota Solo. Diharapkan dengan adanya event-event tersebut, Taman Balekambang semakin dikenal dan diminati banyak warga Solo dan sekitarnya.


Kain Tenun Lurik Pedan

Sejenak mari kita menilik dari Desa Pedan Kabupaten Klaten yang memiliki tradisi kuno yaitu membuat kain tenun lurik. Kain tenun lurik sendiri merupakan salah satu budaya masyarakat Indonesia yang mencoba tetap eksis di masa modern saat ini dengan tetap menjaga proses pembuatannya dengan cara tradisional. Ya walaupun sudah banyak alat mesin tenun  yang lebih modern diera ini namun pembuatan kain tenun lurik Pedan ini masih menggunakan alat tenun yang tradisional yaitu alat tenun kayu manual.
kain lurik khas Pedan

Salah satunya perusahaan tenun Pak Rahmat yang sudah melalang buana sejak tahun 1960an ini juga tetap menggunakan alat tenun yang tradisional yang diyakini hasilnya nanti akan lebih bagus. Selain hasil yang lebih bagus Pak Rahmad juga tetap ingin menjaga warisan seni budaya Indonesia supaya generasi penerus bangsa Indonesia tetap bisa menikmati warisan seni budaya nenek moyang nya.

Meski seiring berjalannya waktu kepopularan kain tenun lurik Pedan akan tersaingi oleh produk – produk kain modern, Pak Rahmat tetap berharap usahanya akan tetap diteruskan oleh anak, cucunya kelak, agar tetap terjaga seni budaya Indonesia yang mulai tersingkir.

Dan tentunya kita para hellosolo lovers yang mencintai keanekaragaman seni budaya Indonesia mari kita gunakan produk dalam negeri salah satunya kain tenun khas Pedan. Tetap gunakan produk – produk lokal agar kelestarian budaya Indonesia tetap terjaga.
foto by google
SOURCE

Menilik Heritage Kota Solo




Sejumlah kekayaan heritage kota Solo.
Rasanya tidak ada habisnya untuk mengorek identitas kota Solo melalui pengalaman masa lampaunya. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa, semakin hari kian menarik dengan penyajian yang serasi antara unsur tradisional dan modern. Solo di masa sekarang memiliki Tehnopark, Bus Batik Solo Trans, Bus Tingkat Werkudara, Railbus Batara Kresna, hingga Mall dan Apartemen, serta pusat-pusat hiburan yang menandakan kota Solo sebagai kota modern, bahkan pada dekade pertama abad ke-20 modernitas Solo sebanding dengan Batavia. Ketika membaca biografi tokoh-tokoh nasional yang berasal dari Solo mulai Sultan Agung hingga Joko Widodo, menandakan secara konseptual Solo mampu menjadi trendcenter dalam pembangunan bangsa. Menyempatkan untuk berjalan menyusuri Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik Kauman, Kompleks Kasunanan dan Mangkunegaran, serta Sriwedari hingga museum-museum di Solo, nampak pula bahwa kejayaan Solo masa lampau masih sangat dekat dengan kita.
Slogan Solo masa kini.
Kota Solo menjadi kota yang selalu menarik untuk dihuni, terbukti sejak didirikannya di tahun 1745 hingga kini selalu memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Solo juga memiliki komposisi penduduk yang heterogen, artefak yang kini dapat diamati berupa peninggalan kampung-kampung yang menggambarkan ciri kehidupan tertentu berdasar etnis yang tinggal di dalamnya. Beberapa perkampungan tersebut yakni, Kampung Arab di Pasar Kliwon, Kampung Tionghoa di sekitar Pasar Gedhe, Kampung Etnis Bali di Kebalen, orang Madura di kampung Sampangan, Kampung Etnis Banjar dan Flores di kampung Banjaran, Kampung Pedagang Jawa di Kampung Sewu.
Kompleks Keraton Kasunanan memiliki banyak nama kampung dalam sejarah.
Pemberian nama-nama di lingkup kota Solo didasarkan beberapa hal, yakni berdasarkan tokoh utama yang tinggal di suatu wilayah, berdasarkan nama pemiliki, berdasarkan jenis pekerjaan, berdasarkan nama jabatan, berdasarkan fungsi wilayah itu, dan berdasarkan peristiwa penting atau pengalaman yang dilalui di wilayah itu. Berikut penamaan wilayah lingkungan dalam Keraton Kasunanan yang disesuaikan dengan nama pemilik tempat tersebut, seperti Mangkubumen yang merupakan tempat tinggal Gusti Pangeran Arya Mangkubumi, Kampung Jayadiningrat sebagai tempat tinggal Raden Tumenggung Jayadiningrat yang berpangkat bupati, Kampung Kartadipuran adalah nama tempat tinggal Raden Tumenggung Kartadipura yang berpangat bupati anem, sedangkan tempat tinggal Patih hanya disebut Kepatihan. Tempat tinggal para prajurit terletak di sekeliling Keraton di luar Beteng yang disesuaikan dengan nama pasukan dan golongannya, seperti Gandhekan Kiwa dan Gandhekan Tengen untuk menyebut tempat tinggal prajurit Gandhek. Kampung Tamtaman sebagai tempat tinggal prajurit golongan Wiratamtama, Kampung Carangan untuk golongan Carangan, Kampung Jayengan untuk golongan Wanengastra. Kemudian ada pula Kampung Sorogenen Kiwa dan Sorogenen Tengan untuk golongan Keparak. Sedangkan prajurit Jayasura dan Jayaprajan yang merupakan pasukan berani mati, tergolong prajurit luar, serta bertempat tinggal di bagian selatan Keraton dengan nama tinggal Kampung Joyosuran dan Joyotakan.
Untuk menyebut tempat tinggal Bupati-Nayaka Sewu hanya disingkat dengan nama Kampung Sewu, demikian hanlnya tempat tinggal Nayaka-Jawi Kiwa, hanya disebut Kampung Penumping, sedangkan untuk menyebut tempat tinggal Nayaka-Bumi digunakan sebagai nama Kelurahan Bumi. Kampung Mangkuyudan semula merupakan tempat tinggal Bupati Mangkuyuda.
Di kota Solo juga terdapat kampung-kampung yang penamaannya menurut jenis pekerjaan kriya atau pertukangan, seperti Sayangan yang terletak di sebelah barat Notosuman, merupakan kampung pembuat kerajinan alat-alat masak atau dapur. Tempat tinggal para perajin tembaga disebut Kampung Gemblekan, terletak di sebelah barat daya Keraton Kasunanan. Kampung Gupyukan sebagai tempat tinggal profesi gupyuk atau pembubut yang membuat alat-alat musik sejenis gamelan. Abdi dalem tukang sungging yang disebut sereng di Kampung Serengan, Kerten atau Selokarti sebagai kampung perajin ukiran dari batu. Kampung pengukir keris atau salember dinamakan Slembaran. Para srati atau pemelihara Gajah di Sraten. Tempat tinggal Kyai Jamsari disebut Kampung Jamsaren. Para perajin gerabah atau kundhi disebut Kampung Kundhen. Kampung pembuat mebel atau teluk di Kampung Telukan. Kampung para tukang batu disebut Kampung Baturana. Para tukang kayu atau undhagi bertempat tinggal di Undhagen. Para perajin pluntur atau tali gamelan di Kampung Kepunton. Tempat tinggal abdi dalem kalang dinamakan Kalangan. Kampung tukang jagal disebut Jagalan.
Nama-nama tempat di Solo juga didasarkan pada nama penguasa setempat seperti Secoyudan untuk tempat tinggal Ngabehi Secoyudo, Ngabehi Derpayudha di Derpayudan, Ngabehi Ketib Winong di Nonongan. Penamaan ini konon juga berlaku untuk pejabat Belanda, seperti Peter di Kampung Petoran, Jurnas di Jurnasan, Overste di Ngrebusan, dan pejabat Belanda berpangkat Beskal di Beskalan.
Penamaan wilayah yang lain juga didasarkan fungsi dari wilayah tersebut, seperti Kampung Kestalan untuk penamaan kandang kuda yang dalam bahasa Belanda disebut Istal. Kampung Balapan untuk tempat balapan atau pacuan kuda. Tambak Segaran untuk wilayah yang selalu tergenang banjir. Perkampungan Eropa yang banyak berdiri Loji di sebelah timur Benteng Vastenburg dinamalan Loji Wetan. Kampung Banjaran sebagai tempat tinggal orang-orang Banjar.
Dalam pemberian nama wilayah di kota Solo ada pula yang didasarkan pada pengalaman kejadian di tempat itu, seperti Kampung Mesen yang dahulu merupakan tempat semak penuh rumput. Konon setiap orang yang mengambil rumput di tempat itu dipungut biaya sebesar satu sen, sehingga tempat itu dinamakan Mesen. Wilayah lapang sebagai pemakaman juga sebagai tempat pembuangan tulang atau balung diberi nama Kampung Balong. Tempat pemondokan para Narapraja Mangkunegaran yang dari jauh disebut Kampung Punggawan dan Kampung Mondokan.
Solo yang dipahami sekarang menunjukkan kondisi berbeda ketika periodisasinya ditarik jauh ke belakang. Terdapat perbedaan yang signifikan ketika melihat Solo di masa sekarang. Selain kemajuan yang luar biasa, juga terjadi kemunduran yang signifikan pula. Kemajuan terkait dengan banyaknya perubahan sebagai dampak proses modernisasi yang juga telah melahirkan beberapa produk unggulan seperti perkembangan sarana transportasi, industri, struktur sosial masyarakat, dan lain sebagainya.
Jika berkaca pada teori evolusi kebudayaan, begitu banyak kemunduran yang terjadi di kota Solo. Kemunduran tersebut di antaranya hilangnya peran Sungai Bengawan Solo sebagai jalur perdagangan yang menghubungkan Solo dengan Pelabuhan Surabaya. Lunturnya perusahaan Batik Klasik Solo sebagai andalan industri di Solo. Hilangnya jalur kereta api yang menghubungkan kota Solo dengan kota lain maupun pedalaman seperti Boyolali, Sukoharjo, dan sebagainya. Menjadi tugas kita untuk mewariskan identitas kota Solo kepada generasi setelah kita, sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah atas kekayaan budaya dan sejarah kota Solo.
Dikutip dari berbagai sumber dengan perubahan.
Image by Google

Ribuan Warga Meriahkan Sedekah Bumi di Manisrenggo




Ribuan warga meriahkan kirab gunungan sedekah bumi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Manisrenggo, Sabtu (1/9/2012) sore. Selain kirab, para pengunjung juga memperebutkan 17 gunungan hasil bumi yang dibuat oleh berbagai kelompok tani di Manisrenggo.
Kegiatan kirab tersebut diikuti berbagai elemen masyarakat yakni pelajar, kelompok tani, tokoh masyarakat dan Paguyuban Kawulo Keraton Surakarta (Pakasa). Tidak hanya itu acara kirab juga dimeriahkan oleh drum band, reog dan iring-iringan gerobak yang ditarik oleh sapi sebanyak 57 buah yang berasal dari beberapa kecamatan di Klaten dan Kabupaten Sleman DIY.
Kegiatan itu dilakukan sebagai wujud syukur masyarakat Manisrenggo atas limpahan hasil panen yang didapatkan oleh masyarakat tahun ini. Kirab dilaksanakan pada pukul 14.00 WIB, dimulai dari Lapangan Desa Barukan dan selesai di panggung utama yang berada di depan Polsek Manisrenggo.
Camat Manisrenggo, Wahyudi Martono, ketika ditemui Espos, mengatakan acara itu memang sengaja digelar sebagai wujud syukur masyarakat atas limpahan rezeki yang diterima saat ini. Selain itu acara kirab juga berfungsi untuk melestarikan budaya yang ada di sekitar lereng Merapi. “Wujud syukur itu tidak hanya dari petani, tetapi dari seluruh masyarakat Manisrenggo,” kata Wahyudi.
Wahyudi juga mengatakan, kirab itu sudah dilakukan di Manisrenggo selama tiga kali berturut-turut. Ia berharap tahun depan kirab bisa diselenggarakan lagi dengan jumlah peserta dan pengunjung lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Ia juga mengatakan acara ini juga dilakukan untuk menarik wisatawan dari luar daerah agar datang ke Manisrenggo.
Sementara itu, seorang peserta kirab, Siswanto, berharap setelah dilakukannya tradisi syukuran itu hasil bumi yang dihasilkan oleh masyarakat tahun depan akan semakin melimpah ruah. “Ini wujud syukur dari apa yang telah kita dapatkan selama ini, semoga Allah selalu memberikan rezeki bagi kami, agar ekonomi kami semakin meningkat,” kata warga Desa Sukorini tersebut.

Museum Radya Pustaka


Museum ini didirikan pada masa pemerintahan Pakubuwono IX oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV di dalem Kepatihan pada tanggal 28 Oktober 1890. Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV pernah menjabat sebagai Patih Pakubuwono IX dan Pakubuwono X. Museum ini lalu dipindahkan ke lokasinya sekarang ini, Gedung Museum Radyapustaka di Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, pada 1 Januari 1913. Kala itu gedung museum merupakan rumah kediaman seorang warga Belanda bernama Johannes Busselaar.

Status Hukum
Museum Radya Pustaka tidak berada di bawah naungan Dinas Purbakala maupun Dinas Pariwisata Pemerintahan Daerah setempat namun berstatus yayasan. Yayasan ini bernama Yayasan Paheman Radyapustaka Surakarta dan dibentuk pada tahun 1951. Lalu untuk tugas pelaksanaan sehari-hari dibentuk presidium yang pertama kalinya pada tahun 1966 diketahui oleh Go Tik Swan atau juga dikenal dengan nama K.R.T. Hardjonagoro.

Halaman Depan
Di halaman depan, di depan gedung museum, para pengunjung akan menjumpai sebuah patung dada R. Ng. Rangga Warsita. Beliau adalah seorang pujangga keraton Surakarta yang sangat termasyhur dan hidup pada abad ke-19. Patung ini diresmikan oleh presiden Soekarno pada tahun 1953. Di depan dan di belakang patung ini terdapat prasasti yang menggunakan aksara Jawa.
Lalu di serambi museum ada beberapa meriam beroda dari masa VOC yang berasal dari abad ke-17 dan ke-18. Sementara itu ada pula beberapa meriam-meriam kecil milik Keraton Kartasura. Selain itu terdapat pula beberapa arca-arca Hindu-Buddha. Antara lain terdapat arca Rara Jonggrang yang artinya adalah “perawan tinggi” namun sebenarnya adalah arca Dewi Durga. Selain itu ada pula arca Boddhisatwa dan Siwa. Arca-arca ini ditemukan di sekitar daerah Surakarta.

Koleksi
Museum Radya Pustaka memiliki koleksi yang terdiri dari berbagai macam arca, pusaka adat, wayang kulit dan buku-buku kuno. Koleksi buku kuna yang banyak dicari itu di antaranya mengenai Wulang Reh karangan Pakubuwono IV yang isinya antara lain mengenai petunjuk pemerintahan dan Serat Rama karangan Pujangga Keraton Surakarta bernamaYasadipura I yang menceritakan tentang wiracarita Ramayana.

Pada 18 November 2007, Kepala Museum Radya Pustaka, KRH Darmodipuro (Mbah Hadi) ditahan pihak kepolisian sebagai tersangka dalam kasus hilangnya sejumlah koleksi museum, antara lain lima arca batu buatan abad ke-4 dan 9 yang dijual kepada pihak lain dengan harga Rp 80 juta-Rp 270 juta per arca. Penyelidikan menunjukkan bahwa koleksi museum yang hilang diganti dengan barang palsu.[1] Dua hari kemudian, polisi menggeledah rumah pengusaha Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo Subianto di Jakarta dan menemukan lima arca yang hilang dari museum.

Kyai Rajamala

Patung Rajamala

Berada di kamar bagian barat terdapat sebuah patung kepala raksasa yang terbuat dari kayu dan merupakan hasil karya Pakubuwono V ketika beliau masih seorang putra mahkota. Patung tersebut jumlah sebenarnya adalah dua: yang satu lainnya disimpan di Keraton Surakarta. Patung ini ialah hiasan depan sebuah perahu yang dipakai untuk mengambil permaisuri Pakubuwono IV yang berasal dari Madura. Sampai sekarang patung ini masih dianggap keramat dan sering diberi sesajian. Konon kalau lupa patung ini akan mengeluarkan bau amis.

sumber: wikipedia.org


Bengawan Solo


Bengawan Solo adalah sungai terpanjang di Pulau Jawa, Indonesia dengan mata air dari daerah Pegunungan Kidul, Wonogiri dan bermuara di daerah Gresik.
Sungai ini panjangnya sekitar 548,53 km dan mengaliri dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kabupaten yang dilalui adalah Wonogiri, Pacitan, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, Ngawi, Blora, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, dan Gresik.

Bagian Sungai

Daerah Hulu
Daerah ini mayoritas meliputi daerah Hulu Kali Tenggar, Hulu Kali Muning, Hulu Waduk Gajah Mungkur serta sebagian Kabupaten Wonogiri dengan penampang sungai yang berbentuk V. Vegetasi pada daerah ini didominasi oleh tumbuhan akasia. Aktifitas yang banyak dilakukan di dareah ini adalah pertanian, seperti padi dan kacang tanah. Dinding sungai pada daerah ini rata-rata bertebing curam dan tinggi. Karena banyak digunakan untuk pertanian, daerah sekitar sungai pada bagian ini banyak mengalami erosi dan sedimentasi yang cukup tinggi.

Daerah Tengah
Daerah ini mayoritas meliputi daerah Hilir Waduk Gajah Mungkur, sebagian Kabupaten Wonogiri, Pacitan, Sukoharjo, Klaten, Solo, Sragen, sebagian Kabupaten Ngawi dan sebagian Tempuran (hilir) Kali Madiun. Selain itu daerah ini merupakan daerah yang padat penduduk. Pada umumnya kegiatan ekonomi di daerah bagian sungai ini lebih tinggi dibanding bagian hulu dan hilir, dan didominasi oleh kegiatan industri. Akibatnya, banyak limbah yang masuk ke sungai dan mencemari vegetasi di daerah ini. Aktifitas masyarakat yang paling menonjol di daerah ini adalah pertanian, pemanfaatan air sebagai kebutuhan sehari-hari, peternakan dan industri.

Daerah Hilir
Daerah ini mayoritas meliputi daerah sebagian Tempuran (hilir) Kali Madiun, sebagian kabupaten Ngawi, Blora, Bojonegoro, Lamongan, Tuban dan berakhir di Desa Ujungpangkah, Gresik[2].

Lagu Bengawan Solo

Gesang
Lagu Bengawan Solo adalah sebuah lagu Indonesia berirama keroncong yang terkenal ciptaan Gesang. Diciptakan pada tahun 1940, lagu ini terinsipirasi dari sebuah sungai asli dengan nama yang sama di Jawa Tengah. Liriknya mendeskripsikan sungai tersebut dengan gaya yang nostalgik. Setelah Perang Dunia II, pasukan Jepang yang kembali ke negaranya membawa lagu ini bersama mereka. Di sana, lagu ini menjadi populer setelah dinyanyikan berbagai penyanyi, di antaranya Toshi Matsuda.

Lagu ini diciptakan pada tahun 1940, ketika ia beusia 23 tahun. Gesang muda ketika itu sedang duduk di tepi sungai Bengawan Solo, ia yang selalu kagum dengan sungai tersebut, terinspirasi untuk menciptakan sebuah lagu. Proses penciptaan lagu ini memakan waktu sekitar 6 bulan.
Lagu Bengawan Solo juga memiliki popularitas tersendiri di luar negeri, terutama di Jepang. Bengawan Solo sempat digunakan dalam salah satu film layar lebar Jepang.

Lirik Lagu Bengawan Solo
Bengawan Solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
Perhatian insani

Musim kemarau
Tak seb'rapa airmu
Di musim hujan, air
meluap sampai jauh

Reef:
Mata airmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut
Itu perahu
Riwayatmu dulu
Kaum pedagang s'lalu
Naik itu perahu
sumber: wikipedia.org

VIA

Pura Mangkunagaran


Pura (Puro) Mangkunegaran adalah istana tempat kediaman Sri Paduka Mangkunagara di Surakarta dan dibangun setelah tahun 1757 dengan mengikuti model keraton yang lebih kecil.

Secara arsitektur bangunan ini memiliki ciri yang sama dengan keraton, yaitu pada pamedan, pendopo, pringgitan, dalem, dan kaputran, yang seluruhnya dikelilingi oleh tembok yang kokoh.

Pura ini dibangun setelah Perjanjian Salatiga yang mengawali pendirian Praja Mangkunegaran dan dua tahun setelah dilaksanakannya Perjanjian Giyanti yang isinya membagi pemerintahan Jawa menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakartaoleh VOC (Kumpeni) pada tahun 1755. Kerajaan Surakarta terpisah setelah Pangeran Raden Mas Said terus memberontak pada VOC (Kumpeni) dan atas dukungan sunan mendirikan kerajaan sendiri tahun 1757. Raden Mas Said memakai gelar Mangkunegoro I dan membangun wilayah kekuasaannya di sebelah barat tepian Sungai Pepe (Kali Pepe) di pusat kota yang sekarang bernama Solo.

Seperti bangunan utama di keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta, Puro Mangkunegaran mengalami beberapa perubahan selama puncak masa pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Tengah. Perubahan ini tampak pada ciri dekorasi Eropa yang popular saat itu.

Bagian-bagian Bangunan

Setelah pintu gerbang utama akan tampak pamedan, yaitu lapangan perlatihan prajurit pasukan Mangkunegaran. Bekas pusat pasukan kuda, gedung kavaleri ada di sebelah timur pamedan. Pintu gerbang kedua menuju halaman dalam tempat tempat berdirinya Pendopo Agung yang berukuran 3.500 meter persegi. Pendopo yang dapat menampung lima sampai sepuluh ribu orang orang ini, selama bertahun-tahun dianggap pendopo yang terbesar di Indonesia. Tiang-tiang kayu berbentuk persegi yang menyangga atap joglo diambil dari pepohonan yang tumbuh di hutan Mangkunegaran di perbukitan Wonogiri. Seluruh bangunan ini didirikan tanpa menggunakan paku. Di pendopo ini terdapat empat set gamelan, satu di gunakan secara rutin dan tiga lainnya digunakan hanya pada upacara khusus.

Warna kuning dan hijau yang mendominasi pendopo adalah warna pari anom (padi muda) warna khas keluarga Mangkunegaran. Hiasan langit-langit pendopo yang berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa dan dari langit-langit ini tergantung deretan lampu gantung antik. Pada mulanya orang-orang yang hadir di pendopo duduk bersila di lantai. Kursi baru diperkenalkan pada akhir abad ke-19 waktu pemerintahan Mangkunagara VI.
Tempat di belakang pendopo terdapat sebuah beranda terbuka, yang bernama Pringgitan, yang mempunyai tangga menuju Dalem Ageng, sebuah ruangan seluas 1.000 meter persegi, yang secara tradisional merupakan ruang tidur pengantin kerajaan, sekarang berfungsi sebagai museum. Selain memamerkan petanen (tempat persemayaman Dewi Sri) yang berlapiskan tenunan sutera, yang menjadi pusat perhatian pengunjung, museum ini juga memamerkan perhiasan, senjata-senjata, pakaian-pakaian, medali-medali, perlengkapan wayang, uang logam, gambar raja-raja Mangkunegaran dan benda-benda seni.

Di bagian tengah Puro Mangkunegaran di belakang Dalem Ageng, terdapat tempat kediaman keluarga mangkunegaran. Tempat ini, yang masih memiliki suasana tenang bagaikan di rumah pedesaan milik para bangsawan, sekarang digunakan oleh para keluarga keturunan raja. Taman di bagian dalam yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbunga dan semak-semak hias, juga merupakan cagar alam dengan sangkar berisi burung berkicau, patung-patung klasik model Eropa, serta kupu-kupu yang berwarna-warni dengan air pancur yang bergerak-gerak dibawah sinar matahari. Menghadap ke taman terbuka, adalah Beranda Dalem, yang bersudut delapan, dimana terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah. Kaca-kaca berbingkai emas terpasang berjejer di dinding. Dari beranda menuju ke dalam tampak ruang makan dengan jendela kaca berwarna gambar yang berisi pemandangan di Jawa, ruang ganti dan rias para putri raja, serta kamar mandi yang indah.

Sisa peninggalan yang masih tampak jelas pada saat ini adalah perpustakaan yang didirikan pada tahun 1867 oleh Mangkunagara IV. Perpustakaan tersebut terletak dilantai dua, diatas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Perpustakaan yang daun jendela kayunya dibuka lebar-lebar agar sinar matahari dapat masuk, sampai sekarang masih digunakan oleh para sejarahwan dan pelajar. Mereka dapat menemukan manuskrip yang bersampul kulit, buku-buku berbagai bahasa terutama bahasa Jawa, banyak koleksi-koleksi foto yang bersejarah dan data-data mengenai perkebunan dan pemilikan Mangkunegaran yang lain.
sumber: wikipedia.org


Keraton Surakarta Hadiningrat


Keraton Surakarta atau dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat, merupakan bekas Istana Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1755-1946). Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. 

Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC di tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta sampai dengan tahun 1946, ketika Pemerintah Indonesia secara resmi menghapus Kasunanan Surakarta dan menjadikannya sebuah karesidenan langsung di bawah Presiden Indonesia.

Kemegahan Arsitektural

Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-45, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.

Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan (?) dan Kemandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor/Utara sampai Kemandungan Kidul/Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.
sumber: wikipedia.org

SOURCE
 

Berita Bisnis

Ayo Jajan.........Solo dan Sekitarnya

Serba Serbi


web counter
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Seputar Kota Solo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger