Headlines News :

Cari Hotel di Solo

Wedangan

caragampang.com
Tampilkan postingan dengan label Sragen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sragen. Tampilkan semua postingan

SANGIRAN, PUSAT PERHELATAN PEMILIHAN DUTA WISATA SRAGEN


MANTEB.com - Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, Grand Final Pemilihan Duta Wisata Sukowati Sragen 2012 akan dipusatkan di kawasan Museum Sangiran. Dalam ajang tersebut ditargetkan ratusan peserta Duta Wisata Sragen 2012 diharapkan mampu bersaing untuk mendukung agenda wisata Sragen termasuk di antaranya Visit Jateng 2013.
Menurut Kepala Disparbudpora Kabupaten Sragen, Poedarwanto, pendaftaran calon peserta dibuka mulai tanggal 1 sampai dengan 15 September 2012. Para peserta sendiri dapat mendaftarkan diri dengan mengisi formulir yang disediakan di Kantor Disparbudpora Sragen. Formulir juga dapat diunduh di website Pemkab Sragen diwww.sragenkab.go.id.
Peserta yang dijaring dari kalangan muda mudi warga Sragen berusia antara 18 tahun hingga 25 tahun dan berpendidikan minimal SLTA sederajat. Calon peserta yang terjaring selanjutnya wajib mengikuti serangkaian proses seleksi antara lain tes tertulis, penelusuran minat dan bakat, wawancara, serta tes kesamaptaan pada tanggal 17 September 2012.
Grand Final Pemilihan Duta Wisata akan digelar pada tanggal 22-23 September mendatang yang dipusatkan di Museum Sangiran, Kalijambe Sragen.
Acara puncak grand final pemilihan Duta Wisata Sukowati tahun ini akan dikemas dalam serangkaian acara yang menampilkan atraksi kesenian etnik di Museum Sangiran. Ke depan, kawasan Sangiran juga diarahkan sebagai tujuan wisata edukasi yang berkaitan dengan evolusi manusia, perjalanan budaya komunitas dan perubahan lingkungan hidup. (Wisnu Tripranoto – Sragen)  SOURCE

INSENTIF: Bupati Akan Naikkan Insentif RT/RW


SRAGEN–Bupati Sragen, Agus Fatchur Rahman akan berusaha menaikkan nilai insentif bagi mereka yang menjabat sebagai ketua RT/RW di Kabupaten Sragen.
“Tahun ini Rp50.000/bulan, besok diundakke [dinaikkan] lagi,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara Silaturahmi dan Halalbihalal Keluarga Besar Dinas Pendidikan Kabupaten Sragen di Aula SMAN 1 Sragen, Kamis (6/9/2012).
Namun Agus meminta agar para ketua RT/RW mau memenuhi aturan, yaitu membuat surat pertanggungjawaban (SPj). Pasalnya dana yang digunakan untuk membayar insentif RT/RW adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sragen.
“APBD keluar itu harus dengan SPj,” jelasnya.
Menurutnya saat ini masih cukup banyak ketua RT/RW yang belum terbiasa membuat SPj. Oleh karena itu perlu ada bimbingan khusus. Ia juga meminta para ketua RT membantu program Pemkab Sragen. Misalnya terkait santunan kematian bagi warga miskin. Jika memungkinkan, ketika ada warga miskin yang meninggal dunia, ketua RT memberikan talangan santunan kematian terlebih dahulu. Jika dana dari pemerintah cair, dana itu pasti akan diganti.
Agar proses pencairan santunan kematian bisa cepat, terangnya, ketua RT bisa menghubungi pihak Kantor Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan (UPTPK).
“Biasanya orang miskin tidak diajeni. Tapi petugas UPTPK semua saya minta melayani orang miskin dengan baik. Mereka tampil rapi berdasi dan sabar-sabar,” katanya.


Korsleting Listrik, 4 Los Pasar Bunder Ludes Terbakar


SRAGEN— Sebanyak empat los di Pasar Bunder Sragen ludes dilalap api, Minggu (26/8/2012) sekitar pukul 01.05 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut, hanya kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
Keempat los itu terdiri atas dua los warung nasi milik Titik, 50, warga Mojomulyo RT 004/RW 009, Kelurahan Sragen Kulon dan dua los grabah atau bumbu milik H Yatno, 48, warga Tamansari RT 041/RW 015, Kelurahan Kroyo, Karangmalang.
Keterangan yang diperoleh Solopos.com dari sejumlah sumber menyebutkan peristiwa kebakaran itu terjadi saat aktivitas pasar belum ramai. Sebanyak dua unit mobil pemadam kebakaran datang cukup cepat karena lokasinya berdekatan dengan Pasar Bunder. Api berhasil dipadamkan sekitar 40 menit pascakebakaran.
Seorang saksi, Yudo, 40, warga Sragen, kepada Solopos.com, Minggu, menerangkan kebakaran itu diduga disebabkan oleh korsleting listrik. Titik api, kata dia, berasal dari salah satu kios itu.
“Saya menerima laporan saat kondisi api sudah membesar. Para petugas pemadam kebakaran beserta pedagang dan warga sekitar berusaha memadamkan api. Untungnya api tak merembet ke los lainnya. Hanya empat los yang terbakar. Kerugian diperkirakan mencapai Rp50 juta,” ujarnya. Tri Rahayu/JIBI/SOLOPOS


KEKERINGAN, Warga Padas Terpaksa Membeli Air Bersih


SRAGEN--Musim kemarau yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir membuat sumur warga Ngemban Padas, Gemolong kering. Ditambah lagi, tidak adanya aliran air dari PDAM memaksa sebagian warga membeli air untuk keperluan sehari-hari.
Seorang warga RT 011, Ngemban Padas, Sutarno, 40, mengatakan dirinya sudah tidak dapat mengambil air dari sumurnya meski sudah disedot menggunakan mesin penyedot air. “Debit air sudah turun sejak Puasa dan puncaknya hari ini sumur saya benar-benar tidak dapat mengeluarkan air,” terang Sutarno kepada Solopos.com, Senin (27/8/2012).
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Sutarno meminta kepada tetangga yang masih memiliki sedikit cadangan air. Sedangkan untuk memasak dan air minum, dia tidak berani menggunakan air sumur karena kandungan kapurnya terlalu banyak. Biasanya dirinya membeli air mineral isi ulang sebagai air minum.  “Menurut pengamatan saya, sumur di rumah-rumah menjadi kering karena warga banyak mengambil air tanah untuk pengairan sawah yang saat ini ditanami padi,” tambah tukang reparasi televisi tersebut.
Warga RT 013, Ngamban Padas, Marhatun, 50, mengaku juga kehabisan air bersih untuk keperluan sehari-hari sejak sebulan terakhir. Ia akhirnya meminta tetangga yang masih memiliki persediaan. “Untuk memasak dan air minum, sepekan saya membeli enam jeriken isi 30 liter. Satu jeriken saya beli dengan harga Rp3.000. Jadi totalnya saya menghabiskan uang Rp18.000 per pekan,” terang Marhatun di rumahnya.
Marhatun bersyukur karena ia masih mampu membeli air untuk keperluannya. Pemilik setengah hektare sawah yang ditanami padi ini juga mengaku air di sawahnya mulai menyusut sehingga ia harus sering-sering menggali sumur agar airnya keluar.
Hal yang sama dialami Rumini, 27, yang berdekatan dengan rumah Sutarno. Air sumur miliknya telah habis sejak dua minggu lalu. Selama ini ia juga mengandalkan sumur milik warga lain yang masih dapat diambil airnya. Tahun lalu, air di sumurnya masih tersisa sedikt saat kemarau tiba. Tetapi kondisinya, menurutnya, terlalu keruh untuk keperluan masak dan minum. Air itu dulu hanya digunakannya untuk mencuci tangan dan kaki saja.
Ia berharap agar pemerintah Kabupaten Sragen bersedia mengirim air gratis untuknya dan warga lain yang kekurangan air di daerahnya. “Selama lima tahun saya tinggal di sini, belum pernah ada bantuan pemerintah saat kemarau tiba. Saya berharap tahun ini pemerintah mengirim  air bersih kemari,” tandas Rumini.



 

Berita Bisnis

Ayo Jajan.........Solo dan Sekitarnya

Serba Serbi


web counter
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Seputar Kota Solo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger