Headlines News :

Cari Hotel di Solo

Wedangan

caragampang.com
Tampilkan postingan dengan label Boyolali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Boyolali. Tampilkan semua postingan

NARKOBA: Bawa Ganja di Mobil Mewah, Hendra Jadi Tersangka

BOYOLALI-Polisi telah menetapkan status tersangka terhadap Hendra Ali Sabana, 31, warga Kranggan, Mojokerto, Jawa Timur, yang belum lama ini ditangkap karena membawa ganja di mobil mewah yang ditumpanginya. Kapolres Boyolali, AKBP Budi Haryanto, melalui Kasat Narkoba, AKP AA Gede Oka, mengemukakan polisi telah memeriksa secara intensif terhadap tiga orang yang diamankan petugas dalam kasus tersebut.
Kepada polisi, lanjutnya, Hendra telah mengakui ganja yang ditemukan terbungkus kertas koran dan dimasukkan dalam bungkus rokok itu miliknya. Setelah resmi ditetapkan sebagai tersangka, Hendra langsung ditahan di Mapolres Boyolali. Dalam kasus tersebut, tersangka dijerat pasal 111 dan 127 Undang-undang (UU) No 35/2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman minimal empat tahun dan maksimal 12 tahun penjara.
Disinggung dua rekan Hendra yang saat itu juga menumpang mobil yang sama dengan tersangka saat penangkapan tersebut, Gede Oka menyebutkan keduanya dilepas karena tidak terbukti sebagai pemilik ganja itu. “Mereka dilepas karena tidak terbukti sebagai pemilik ganja itu,” terang Gede Oka kepada wartawan, Rabu (5/9/2012).
Sebelumnya, jajaran Polres Boyolali mengamankan tiga orang penumpang mobil Range Rover saat digelar razia di Pos Polisi Bangak, Kecamatan Banyudono, Kamis (30/8/2012) malam lalu. Mereka diamankan lantaran petugas menemukan ganja yang dibungkus kertas koran dan dimasukkan dalam bungkus rokok di lantai mobil kursi depan samping sopir.   SOURCE

Hendrati, Ubah Sampah Jadi Rupiah…


Bagi kebanyakan orang, barang-barang bekas merupakan sampah dan harus dibuang. Namun bagi Hendrati Sri Kristiyaningsih, 46, sampah telah mengantarkan dia mendapat berbagai penghargaan, baik lokal maupun nasional.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Hendrati, sapaan akrabnya, sudah membuat berbagai macam kreatifitas. Ketika kelas 3 SMP, keluarganya pindah dari Semarang ke Karanggede, Boyolali. Di daerah barunya tersebut, dia mengaku menemukan banyak barang bekas. Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan dan berbekal kreatifitas yang ia miliki, kemudian wanita berkacamata ini memiliki pemikiran untuk memanfaatkan limbah-limbah tersebut.
“Awalnya saya membuat barang-barang dari kain perca, kemudian ikut perlombaan dan dapat juara 2. Teman saya bilang kalau buatan saya bagus, kenapa tidak dipasarkan saja? Dan kebetulan juga waktu itu sedang membutuhkan tambahan pendapatan. Dari situ kemudian saya mulai membuka usaha daur ulang limbah,” ungkapnya, saat ditemui Solopos.com, Rabu (5/9/2012), di rumahnya di Perumahan Bumi Singkil Permai 01/13/Karanggeneng, Boyolali.
Dia mengaku tidak berusaha untuk mempromosikan usahanya. Penyebaran informasinya hanya dari mulut ke mulut. Hendrati memanfaatkan kertas bekas, plastik, daun kering dan biji-bijian untuk membuat kerajinan. Pegawai Dinas Koperasi dan UMKM Boyolali ini mengaku dulu ketika pengusaha daur ulang belum banyak, dalam satu bulan, omzetnya bisa mencapai Rp10 juta. Namun sekarang, dalam sebulan, ibu enam anak ini mendapatkan Rp3 juta dari menjual barang-barang daur ulang.
 Pelatihan Gratis
Pelanggan Hendrati bukan hanya orang lokal Boyolali, tapi juga pembeli dari luar kota bahkan luar negeri. Sementara karena kepeduliannya terhadap lingkungan hidup, istri Ir. Eko Agus Sunan ini dipercaya Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi Jawa Tengah untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat terkait dengan pemanfaatan limbah. “Hampir semua kota dan kabupaten yang ada di Jawa Tengah sudah saya kunjungi untuk memberikan pelatihan,” ungkapnya.
Baginya yang terpenting adalah dia bisa memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar dan mendapatkan tambahan penghasilan yang halal. Dia percaya jika memberikan kemudahan kepada orang lain, Tuhan akan memberikan kemudahan kepada dia dan keluarganya.
Lebih lanjut, Hendrati juga menuturkan, dia sangat terbuka jika ada masyarakat yang ingin belajar membuat kerajinan dari limbah. “Bagi siapa saja yang ingin belajar membuat kerajinan dari limbah, silakan datang ke sanggar saya. Belajar disini gratis, tidak dipungut biaya,” tuturnya.  SOURCE

BBM NONSUBSIDI: Dilarang Pakai Premium, Kenaikan Tarif Ambulans Bisa Bebani Pasien


BOYOLALI–Direksi RSUD Banyudono, Boyolali berharap ada kebijakan yang bisa diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali untuk operasional ambulans rumah sakit tersebut. Hal itu berkaitan dengan diberlakukannya larangan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bagi kendaraan dinas di wilayah tersebut. Kenaikan tarif pemakaian ambulans untuk antar-jemput pasien dipastikan bisa membebani pasien.
Kepala Tata Usaha (TU) RSUD Banyudono, Sri Rejeki mengemukakan pemberlakuan larangan pemakaian BBM bersubsidi bagi kendaraan pelat merah itu berdampak terhadap biaya operasional ambulans rumah sakit itu, khususnya untuk layanan antar-jemput pasien.
Beralihnya pemakaian BBM dari premium ke pertamax secara otomatis harus naik dari sisi harga hingga dua kali lipat. Sehingga tarif pemakaian ambulans yang harus dibebankan kepada pasien kelas I dan kelas II, naik.
“Itu yang menjadi dilema kami. Dengan pemakaian pertamax, tentu harganya akan naik hingga dua kali lipat. Dan itu akan membebani pasien, khususnya kelas I dan kelas II,” ungkap Sri ketika ditemui wartawan di kantornya, Kamis (6/9/2012).
Dengan kondisi tersebut, pihak RSUD berharap Pemkab bisa mengambil kebijakan khusus untuk operasional ambulans karena menyangkut layanan rumah sakit kepada masyarakat.
“Ya mungkin bisa dengan kebijakan pemberian subsidi. Sebab kalau mengacu pada Surat Edaran (SE) Menteri ESDM No 12/2012, semua kendaraan dinas pemerintah daerah, termasuk ambulans, dilarang menggunakan BBM bersubsidi,” katanya.
Terpisah, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Boyolali, Basuni mengakui dalam rapat kerja Komisi IV dengan RSUD Banyudono salah satunya membahas keberadaan ambulans tersebut. Rencananya, Komisi IV memberikan rekomendasi terkait hal itu. SOURCE

PMI Boyolali Krisis Stok Darah


BOYOLALI–Stok darah di Unit Tranfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) cabang Boyolali krisis.
Stok darah pada Senin (27/8/2012) hanya sebanyak tujuh kantong saja. Jumlah ini terdiri dari enam kantong golongan darah B dan satu kantong darah A. Sedangkan untuk darah O dan AB kosong.
Direktur UTD PMI Boyolali, Achmad Muzayin mengatakan, krisis stok darah ini terjadi lantaran peralihan masa puasa, Lebaran dan setelahnya. Para pendonor umumnya masih merayakan Hari Raya Idul Fitri sehingga belum berkesempatan untuk mendonor.
“Sepekan ini jarang sekali ada yang donor darah. Padahal kebutuhan akan darah di beberapa rumah sakit terus menerus bertambah,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Senin.
Pihaknya terus mengupayakan agar stok ini aman lagi pada bulan-bulan mendatang. “Pekan depan sudah ada agenda terkait donor darah. Sehingga stok darah di Boyolali akan terkendali lagi,” tuturnya. Lebih lanjut Achmad mengungkapkan, ketersediaan darah di PMI kali merupakan yang terendah. Padahal UTD PMI juga harus menyetok darah ini ke delapan rumah sakit di Boyolali, baik negeri maupun swasta.



Ibu Pembuang Bayi Ditangkap


BOYOLALI-Jajaran Polres  Boyolali, Minggu (26/8/2012), akhirnya menangkap tersangka pelaku pembuangan bayi di sebuah warung mi ayam di Ampel, Boyolali, Sabtu (25/8) lalu. Petugas menciduk tersangka yang merupakan ibu kandung bayi yang berjenis kelamin laki-laki ini.
Tersangka bernama Tuminah, 34, warga Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Ia ditangkap polisi saat hendak mengetahui kondisi anaknya yang ditinggal di warung mi ayam.
Kasatreskrim Polres Boyolali, AKP Dwi Haryadi mengatakan, penangkapan tersangka pembuang bayi ini hasil penyelidikan petugas. Aparat meminta keterangan dari sejumlah saksi dan berhasil mengetahui ciri-ciri pelaku pembuangan bayi. Tersangka ternyata datang lagi keesokan harinya dan kemudian ditangkap petugas.
“Kami berhasil menemukan tersangka yang merupakan ibu kandung bayi yang dibuangnya sendiri dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Ia langsung diamankan di Mapolres Boyolali,” ujarnya saat ditemui wartawan di Mapolres Boyolali, Senin (27/8/2012).
Ia memaparkan, tersangka membuang bayi yang merupakan hasil hubungan gelap dengan seorang laki-laki berinisial J, warga Singkil, Karanggeneng, Boyolali Kota. Ia meninggalkan bayi berumur dua bulan itu lantaran pasangannya tidak mau bertanggung jawab.
Di samping itu, tersangka yang berstatus ibu rumah tangga ini nekat membuang anak kandungnya karena impitan ekonomi. “Mereka sudah berhubungan selama empat tahun. Setelah anaknya lahir hingga umur dua bulan, tersangka mengaku ditinggal si J,” paparnya.
Sementara itu, menurut pengakuan tersangka, ia terpaksa membuang bayinya yang ia beri nama Prihatin Istianto karena bingung dan tertekan masalah ekonomi. Tuminah mengaku anak keduanya itu merupakan hasil hubungan gelapnya dengan J.
Kasubag Humas Polres Boyolali, AKP Margono menambahkan, tersangka dijerat dengan Pasal 77 UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak, atau Pasal 305 KUHP atau 307 KUHP tentang Penelantaran Anak dan Bembuangan Bayi. Tersangka diancam hukuman selama lima tahun enam bulan penjara.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, bayi laki-laki ditemukan di sebuah warung mi ayam, Dukuh Karangnongko, Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel, Sabtu (25/8) malam.



 

Berita Bisnis

Ayo Jajan.........Solo dan Sekitarnya

Serba Serbi


web counter
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Seputar Kota Solo - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger